Inspiratif! Safi’i Rela Tukar Sebidang Tanah Demi Sebuah Busur Panah

Jangan lupa share ya!

KABARTUNGKAL.COM. Tak banyak yang tahu kalau cabang olahraga (cabor) panahan ternyata termasuk salah satu cabor nan elegan lagi berkelas di berbagai belahan dunia.

Tak kurang dari amerika, italia, turki, jerman, perancis, india, malaysia, swiss, indonesia hingga korea dan masih banyak lagi negara yang memiliki sederetan atlit-atlit ternama baik level nasional maupun internasional.

Bahkan ada sebagian negara yang juga secara khusus memproduksi peralatan dan perlengkapan cabor ‘sunnah rasulullah’ ini baik untuk pemakaian para atlit mereka sendiri maupun diproduksi secara besar-besaran untuk dipasarkan ke mancanegara.

Harganya pun beragam dan tidak ada satupun yang memiliki harga dibawah 1 juta rupiah. Sebut saja misalnya busur ‘HOYT’ yang biasa digunakan oleh atlit panahan Divisi Recurve yang sudah profesional.

Sebilah busur lawas tempahan negara adidaya amerika itu terbilang cukup mahal. Model standarnya saja bernilai puluhan juta rupiah. Harga yang fantantastis bukan?. Sedikit lebih murah dari busur hoyt, sebut saja salah satu produk buatan korea yang ternyata juga tetap tak kalah elegan dan mahal.

Bagi para atlit profesional, memiliki busur panah yang layak serta sesuai dengan divisi dan jarak tembaknya tetap saja merupakan kebutuhan jika tidak dibilang kewajiban.

Tidak terkecuali Muhammad Safi’i (18), Atlit Divisi Recurve Jarak tembak 70 meter kebanggaan tanjung jabung barat ini juga telah memiliki busur merek hoyt yang konon katanya dibeli beberapa tahun yang lalu dengan harga 30 juta untuk handle dan limb nya saja.

Kisah singkat namun padat dari terbelinya busur tersebutpun terbilang dramatis!. Betapa tidak, pemuda yatim yang tergolong masih belia ini rela melepas sebidang tanah warisan orang tuanya ditambah menabung selama tiga tahun untuk mendapatkan busur idamanannya itu.

“Saya menabung selama tiga tahun lalu kekurangannya terpaksa menjual tanah warisan orang tua, baru bisa mendapatkan busur recurve ini,” kenang fi’i sambil menunjukkan busur kebanggaannya itu.

Ketika ditanya, berapa harga yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan paket lengkap busur recurve merek hoyt itu, fi’i menjawab lebih kurang 40-45 juta itu sudah ‘agak’ lengkap namun beberapa peralatan penunjang menggunakan merek yang masih standar. Ditanya lagi kenapa rela tukar tanah demi sebuah busur panah?

“Sudah kebutuhan yang wajib untuk atlit di kelas recurve seperti kami,” kata fi’i anteng.

Muhammad safi’i hanyalah salah satu dari atlit panahan pemuda asli putra daerah tanjung jabung barat yang telah sukses menorehkan berbagai prestasi di divisinya bahkan hingga even berkelas internasional.

Pengakuannya terkait perjuangan mendapatkan busur panah lengkap dengan peralatan penunjang lainnya relatif sama dengan apa yang dialami oleh beberapa atlit panahan tanjung jabung barat lainnya.

Cerita keahlian memanah para atlit terbaik putra daerah ini sama menariknya dengan kisah ‘rela tukar tanah demi sebuah busur panah’ milik muhammad safi’i ini. Akankah terus seperti itu hingga tiba masanya berjaya? Bagi para atlit mereka bahkan tidak ingin punya jawaban atas tanya tersebut. Namun bagi kita, setidaknya tetap bisa menjawab dengan satu kata pasrah, entahlah!. (Red)

Tinggalkan Balasan