Jamaah Maulid Arbain Ke-32 Bertengger Ditengah Derasnya Hujan

Jangan lupa share ya!

KABARTUNGKAL.COM . Derasnya air hujan yang turun dari langit tidak membuat pecah konsentrasi para jamaah yang mengikuti maulid arbain Ke-32, yang di gelar oleh pimpinan Majelis Tato, Andi Birong sapaan akrabnya dan Majelis Gahwa yang berlangsung di Jl. Bahagia Kelurahan Sriwijaya Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Minggu malam (7/11/21)

Rangkaian kegiatan yang diawali dengan pembacaan Maulid Ad dhiya ul Lami dan digiring alat musik hadrah majelis Ta’lim Da’watul Mukhtar itu membuat para jamaah yang hadir tidak ingin bergerak dari tempat yang telah di sediakan panitia pelaksana.

Mulai dari anak-anak, pemuda, pemudi, bapak-bapak, ibu-ibu semuanya konsentrasi mengikuti berlangsungnya acara. Terlebih saat Al Habib Haidar Al-Munawar turun dari panggung untuk memberikan tausiah sambil hujan-hujanan, semangat para jamaah pun semakin memuncak.

Tidak lama Ustadz Zikri Kurnia Sy menyusul sambil melantunkan sholawat-sholawat di tengah derasnya hujan. Setelah ia turun dari panggung, tidak lama kemudian Al-Habib Taufik bin Idrus Baragbah pun ikut turun dan akhirnya seluruh jamaah yang berada di atas panggung pun turun ke bawah berkumpul bersama jamaah yang lain guna memberikan semangat.

Dalam tausiahnya Al Habib Haidar Al-Munawar menyampaikan bahwa Abu Lahab yang merupakan pamannya Baginda Nabi Muhammad Saw sudah di cap Allah dalam Alquran sebagai penghuni Neraka Jahanam. Akan tetap, beliau mengisahkan Abu Lahab tersebut masih mendapatkan kenikmatan dari Allah lantaran merasa senang dengan Maulidnya (Lahir) baginda nabi.

“Yaitu Jari jemari Abu lahab mengeluarkan susu sebagai balasan atas senangnya baginda Nabi Muhammad telahir ke dunia”. Ujarnya

Untuk diketahui, Abu Lahab adalah salah satu dari empat orang paman Nabi Muhammad SAW. Ia dikenal dengan kisah kematiannya yang mengenaskan. Semasa hidupnya, Abu Lahab kerap menentang ajaran Islam dan membenci Rasulullah SAW.

Abdul uzza bin Abdul Muthalib merupakan seorang terhormat di Makkah. Dia memiliki paras rupawan, kedudukan, dan harta yang berlimpah. Tidak hanya itu, ia juga menjadi keturunan leluhur pilihan yang pandai bergaul.

Kendati demikian, kekayaan dan kemashyuran itu tidak ada artinya. Sebab, ia tidak mengikuti syariat Islam, bahkan menentang dan mencelakai Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, Allah SWT mengekalkan nama Abu Lahab, yang artinya api.

Tidak hanya Abu Lahab, istrinya, Ummu Jamil Aura’ juga membenci Nabi Muhammad SAW. Suatu ketika, ia pernah meletakkan duri dan kayu di jalan yang sering dilalui Rasulullah SAW untuk mencelakainya.

Karena perangai yang kejam, sosok Ummu Jamil diabadikan Allah sebagai perempuan pembawa kayu bakar di Surah Al-Masad.

Abu Lahab dan istrinya juga menyuruh dua orang anaknya yang menikah dengan puteri Baginda Rasullah SAW untuk menceraikan istri-istri mereka. Salah satu dari mereka, Utaibah, menceraikan anak beliau, Ummu Kultsum. Ia juga membentak dan meludahi wajah Nabi.

Setelah itu, Utaibah mendapatkan ganjaran dari perbuatannya. Ketika sampai di daerah al-Ghadirah, ia diterkam oleh singa. Tubuhnya juga dicabik-cabik hingga akhirnya Utaibah mati.

Kematian Abu Lahab terjadi tujuh hari setelah Perang Badar. Dia mengidap penyakit kulit berupa bisul di seluruh tubuhnya. Ditambah, orang-orang pun enggan mengurus jasadnya.

Setelah tiga hari terlantar, jasad Abu Lahab akhirnya dikuburkan dengan cara yang tidak lazim. Tubuhnya didorong dengan kayu panjang hingga masuk ke dalam lubang. Kemudian, jasadnya dilempari dengan batu kerikil hingga tertimbun.

Selanjutnya para jamaah Maulid Arbain ke-32 itu pun tidak berenjak dari tempat acara sampai selesai dan di lanjutkan dengan pembagian nasi kotak juga makan bersama, terakhir roha antara panitia dengan penceramah juga para ustadz (Red/FZ)

Tinggalkan Balasan